Skip to HeaderSkip to PostSkip to Footer

Kenapa Anak Sekolah Harus Ikut Lomba Debat?

Daftar Isi

    Pernah nggak kamu ikutan lomba debat mau itu debat Bahasa Indonesia, debat Bahasa Inggris, debat Bahasa Arab, atau mungkin debat bahasa daerah? Kalau belum pernah, kenapa nggak nyoba? Untuk kamu yang pernah, apa sih yang kamu rasain? Dan apa yang kamu rasa kamu dapatkan dari ikutan lomba debat itu?

    Nah, berhubung saya pernah beberapa kali ikutan lomba debat, ada sedikit banyak kesan tentang lomba debat yang saya dapatkan dan kali ini saya ingin sedikit sharing tentang hal itu.

    Saya nggak mau terlalu banyak berargumen tentang apa itu debat karena saya yakin kalian juga sudah tahu betul tentang seperti apa debat itu. Tapi, supaya kita sepemikiran, saya kasih definisi tentang debat terlebih dahulu.

    Definisi Debat

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), debat /de·bat/ /débat/ adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing: Ada juga yang sering kita sebut debat kusir, yaitu debat yang tidak disertai alasan yang masuk akal dan faktual.

    Yang ingin saya bahas lebih kepada lomba debat, yaitu sebuah ajang beradu pendapat yang mana terdapat satu pihak yang diunggulkan/ dimenangkan atas pihak yang lain dinilai dari segi argumentasinya.

    Sekarang sering kita dengar lomba-lomba debat untuk pelajar, mulai dari pelajar SMP hingga mahasiswa. Memang sebegitu kerennya ya lomba debat itu? Apa sih manfaatnya ikut lomba debat? Bukannya berdebat itu tidak baik?

    Oke, saya ingin coba menjawab pertanyaan seperti itu.

    Saya sangat setuju kalau debat itu tidak baik karena ada cara yang lebih baik dan halus (nggak pake nge-gas) yaitu negosiasi atau musyawarah untuk mufakat. Meski begitu, saya tidak memungkiri bahwa ikut lomba debat itu memberi banyak manfaat dan membawa pengaruh positif bagi si peserta (pelajar atau mahasiswa). Apa saja manfaatnya? Ini beberapa manfaat yang mungkin didapatkan oleh pelajar yang mengikuti lomba debat.

    Membangun mental berani, kritis, dan tegas

    Seorang yang ikut dalam kompetisi berdebat mau tidak mau harus beradu argumen dengan orang lain, betul tidak? Pada saat seperti itu seorang yang, sorry to say, pengecut, akan diam seribu bahasa tak tahu mau bilang apa. Oleh karena itulah, seorang debater (pendebat) harus mempunyai mental yang berani, setidaknya berbicara ketika orang waktunya, berani menjawab ketika ditanya, dan berani bertanggung jawab ketika ada masalah dalam argumentasinya.

    Selain itu, penyampaian argumen ketika debat haruslah tegas dan jelas. Ingat, tegas itu bukan nge-gas (teriak). Tegas itu berbicara lantang dan percaya diri, atau tidak terbata-bata-lah paling minimal. Disitu kita belajar tegas.

    Pernah dengar istilah, ‘anak cerdas itu anak yang banyak bertanya ‘kenapa?’’ Hal itu bisa dibuktikan dengan ikut lomba debat. Setiap peserta debat harus selalu sensitif dan peka terhadap informasi, apakah itu fakta atau opini? Kritisi setiap informasi, begitulah kurang lebih tugas seorang debater.

    Melatih kedewasaan dan empati

    Kalau seorang pelajar sudah pernah mengikuti lomba debat (dan benar-benar berlomba tentunya), dia pasti menjadi pribadi yang lebih dewasa dan berempati. Kenapa? Karena setiap pendebat itu diharuskan selalu bersikap tenang dan memikirkan argument (solusi) terbaik yang bisa diterima semua pihak. Mungkin lebih mudah bila saya sebut diplomatis.

    Selain itu, seorang pendebat juga diharuskan untuk bisa memposisikan diri sebagai pihak lawan, sehingga seorang debater akan terbiasa untuk berpikir sebelum bertindak dan merespon sesuai dengan situasi dan kondisi. Ya, memang tidak semua akan seperti itu. Argumentasi saya yang satu ini mungkin hanya akan berlaku untuk mereka yang benar-benar berlomba.

    Membuat anak berwawasan luas

    Tak bisa dipungkiri, menurut saya, semua pelajar yang pernah debat pasti berwawasan luas. Kok bisa? Karena ketika kita mengikuti lomba debat, topik yang dilombakan bermacam-macam, ada yang tentang politik, ekonomi, pendidikan, teknologi, lingkungan, bahkan keamanan nasional. Di usia yang begitu dini (usia eksplorasi diri), mereka dituntut untuk memikirkan masalah-masalah yang mungkin orang dewasa pun malas memikirkannya.

    Belajar menjadi pribadi yang berpendirian

    Ini adalah output yang mungkin paling terlihat dalam diri pelajar yang ikut atau pernah ikut lomba debat. Mereka menjadi pribadi yang lebih berpendirian, tidak mudah terpengaruh oleh orang lain, dan mungkin sebaliknya, ketika mereka berkata sesuatu (meski tak berniat persuasi atau provokasi) orang dapat terbawa dan terpengaruh oleh mereka. Stay calm, begitu cara mereka merespon suatu masalah.

    Membangun rasa kerjasama dalam tim

    Well, this one is actually a bit cliché. Saya bilang kalau pendebat itu punya rasa teamwork yang cukup baik karena kebanyakan sistem debat mengimplementasikan sistem debat berkelompok, entah itu bertiga atau berdua. Dalam satu tim tentunya masing-masing pendebat harus bisa menyamakan frekuensi agar tersusun argumentasi yang kuat dan saling mendukung satu sama lain. Disanalah para pelajar belajar arti penting kerjasama tim dan komunikasi. Susah? Ya, pake banget.

    Membangun pribadi cerdas dalam berkata-kata

    Jujur saya sebagai yang pernah ikut lomba debat merasa sangat bersyukur karena dengannya saya menjadi pribadi yang lebih luwes berkata-kata. Tidak kaku ataupun kikuk dalam berbicara. Itu sangat membantu saya ketika berbicara di depan khalayak (public speaking). Orang sering sebut saya confident, padahal saya gemetar setengah mampus. Tapi, karena sering dilatih untuk terlihat tenang ketika masih ikut lomba debat, saya bisa tampil seperti itu. So grateful I ever joined in such a great competition.

    Kesimpulan

    Inti dari tulisan saya kali ini adalah debat memberi buaaanyak sekali manfaat bagi pelajar, tapi perlu saya garis bawahi bahwa ini tidak berlaku untuk semua pelajar. Ini hanya berlaku untuk mereka yang mau saja. Jadi, agak aneh menurut saya bila debat dijadikan salah satu materi dalam pelajar Bahasa Indonesia.

    Ya, selagi masih ada sekolah, saya harap semakin hari sistem pendidikan di Indonesia bisa semakin baik lagi. Mungkin telat, tapi Selamat Hari Pendidikan, artikel ini saya dedikasikan untuk hari ini sebenarnya.

    Menurut kalian sendiri gimana? Ada yang punya pendapat lain? Ada yang mau nambahin? Komentar, kritik dan saran selalu saya tunggu untuk kita diskusikan bareng, Terima kasih sudah bersedia membaca dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

    Anda mungkin menyukai postingan ini
    Komentar

    Posting Komentar

    Harap berikan komentar yang relevan dengan topik tulisan.
    Jangan menyertakan link yang tidak berhubungan dengan konten tulisan. Apabila komentar mengandung link (apalagi yang tidak relevan), maka komentar akan dihapus.
    Budayakan sopan santun, hindari penggunaan bahasa yang provokatif, SARA, pornografi.
    Kritik dan saran yang membangun untuk konten ataupun untuk blog sangat berarti bagi kemajuan blog ini.

    Link Kami
    Histats
    PageSpeed Insight Tested
    Valid AMPHTML
    W3C HTML5 Valid
    W3C CSS Valid
    W3C RSS Feed Valid
    W3C Atom Feed Valid
    SSL Secure
    DMCA.com Protection Status

    Mohon Maaf!

    Karena tingginya potensi pencurian konten melalui metode Printing, ASIBUKA memutuskan untuk menonaktifkan fitur print langsung melalui browser. Jika kamu ingin mengcopy materi dari blog ini, silahkan hubungi pengelola blog melalui kontak yang telah disediakan.